LITERATURSULTRA.COM-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton Selatan melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT). Kegiatan pelatihan dan edukasi gizi tersebut dilaksanakan di Kampung KB Desa Banabungi dan Desa Banabungi Selatan, Kecamatan Kadatua, Kamis (11/6/2026).
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi keluarga melalui pemanfaatan pangan lokal sebagai langkah pencegahan stunting, khususnya pada kelompok sasaran seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, calon pengantin, serta keluarga berisiko stunting.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Buton Selatan yang juga Bunda PAUD dan Ketua Posyandu 6 SPM Kabupaten Buton Selatan, Ny. Siti Hj. Norma Adios, Kepala DPPKB Kabupaten Buton Selatan, La Ode Karman, S.E., M.M., Camat Kadatua, Kepala Puskesmas Kadatua, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DPPKB Buton Selatan La Ode Muslihin Mahmud, S.K.M., Kepala Desa Banabungi, Kepala Desa Banabungi Selatan, para kader PKK, kader Posyandu, serta keluarga sasaran.
Kepala DPPKB Kabupaten Buton Selatan, La Ode Karman, mengatakan bahwa pelaksanaan DASHAT merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara mandiri dengan memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Menurutnya, dari 32 desa lokus stunting di Kabupaten Buton Selatan, hingga saat ini program DASHAT telah dilaksanakan di 23 desa dan ditargetkan selesai di seluruh desa lokus pada bulan Juni 2026.
“Target kami bulan Juni ini seluruh desa lokus sudah selesai melaksanakan DASHAT. Setelah itu akan dilakukan pengisian rapor perkembangan selama enam bulan untuk melihat dampak nyata dari pelaksanaan program ini terhadap keluarga sasaran,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DPPKB Buton Selatan, La Ode Muslihin Mahmud, menjelaskan bahwa stunting masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia karena berdampak pada tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.
Ia mengatakan, stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
“Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dibandingkan usianya, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas anak di masa depan,” jelasnya.
Melalui Program DASHAT, peserta diberikan edukasi mengenai pola makan bergizi seimbang dengan konsep “Isi Piringku”, yaitu setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat makanan pokok, dan seperempat sumber protein.
Selain itu, masyarakat juga diajarkan cara mengolah berbagai pangan lokal yang tersedia di Buton Selatan, seperti kasuami, ubi, jagung, ikan laut, ikan teri, udang, dan daun kelor menjadi menu sehat dan bergizi untuk keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, DPPKB Kabupaten Buton Selatan juga mengedukasi masyarakat mengenai lima langkah pencegahan stunting yang dianjurkan BKKBN, yakni memeriksakan kehamilan secara rutin, mengonsumsi tablet tambah darah, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, memberikan MP-ASI bergizi, serta aktif mengikuti kegiatan Posyandu setiap bulan.
“Pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama. Melalui DASHAT, kami ingin mengajak masyarakat memanfaatkan pangan lokal yang tersedia untuk mewujudkan generasi Buton Selatan yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” pungkasnya. (*)
Pemkab Buton Selatan Optimalkan Pangan Lokal untuk Cegah Stunting



